Sejarah
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.[1] Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
Kalender Hijriyah atau Kalender Islam (Bahasa Arab: التقويم الهجري; at-taqwim al-hijri), adalah kalender yang digunakan oleh umat Islam, termasuk dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, atau hari-hari penting lainnya. Di beberapa negara yang berpenduduk mayoritas Islam, Kalender Hijriyah juga digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari. Kalender Hijriyah menggunakan sistem kalender lunar (komariyah).
Kalender ini dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M.
Imlek (lafal Hokkian dari 阴历, pinyin: yin li, yang artinya kalender bulan) atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari.
Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha. Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti "Kalender Agrikultur" (nónglì 农历/農曆), "Kalender Yin 阴历/陰曆" (karena berhubungan dengan aspek bulan), "Kalender Tua" (jìulì 旧历/舊曆) setelah "Kalender Baru" (xīnlì 新历/新曆) yaitu kalender masehi, diadopsi sebagai kalender resmi dan "Kalender Xià 夏历/夏曆" yang pada hakekatnya tidak sama dengan kalender saat ini.
Tahun baru (正月 shōgatsu?) di Jepang dirayakan tanggal 1 Januari dan berlangsung hingga tanggal 3 Januari. Dalam bahasa Jepang, kata "shōgatsu" dulunya dipakai untuk nama bulan pertama dalam setahun, tapi sekarang hanya digunakan untuk menyebut tiga hari pertama di awal tahun.
Istilah "shōgatsu" juga digunakan untuk periode matsu no uchi (松の内 ?) atau masa hiasan daun pinus (matsu) boleh dipajang. Di daerah Kanto, Matsu no uchi berlangsung dari tanggal 1 Januari hingga 7 Januari, sedangkan di daerah Kansai berlangsung hingga koshōgatsu (小正月 ?, tahun baru kecil) tanggal 15 Januari.
Tanggal 1 Januari adalah hari libur resmi di Jepang, tapi kantor pemerintah dan perusahaan swasta tutup sejak tanggal 29 Desember hingga 3 Januari. Bank dan lembaga perbankan tutup dari tanggal 31 Desember hingga 3 Januari, kecuali sebagian ATM yang masih melayani transaksi.
Sampai tahun 1970-an, sebagian besar toko dan pedagang eceran di daerah Kanto tutup hingga tanggal 5 Januari atau 7 Januari. Perubahan gaya hidup dan persaingan dari toko yang buka 24 jam membuat kebiasaan libur berlama-lama ditinggalkan. Mulai tahun 1990-an, hampir semua mal dan pertokoan hanya tutup tanggal 1 Januari dan mulai buka keesokan harinya tanggal 2 Januari, tapi biasanya dengan jam buka yang diperpendek. Hari pertama penjualan barang (hatsu-uri) di pusat pertokoan dimeriahkan dengan penjualan fukubukuro (kantong keberuntungan). Penjualan barang di semua mal dan pertokoan sudah normal kembali sekitar tanggal 4 Januari.
Kalender Saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiah-kamariah (candra-surya) atau kalender luni-solar. Era Saka dimulai pada tahun 78 Masehi.
•
Nama bulan
Sebuah tahun Saka dibagi menjadi duabelas bulan. Berikut nama bulan-bulan tersebut:
1. Srawanamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Juli-Agustus atau bulan Jawa/Bali Kasa
2. Bhadrawadamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Agustus-September atau bulan Jawa/Bali Karo
3. Asujimasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan September-Oktober atau bulan Jawa/Bali Katiga
4. Kartikamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Oktober-November atau bulan Jawa/Bali Kapat
5. Margasiramasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan November-Desember atau bulan Jawa/Bali Kalima
6. Posyamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Desember-Januari atau bulan Jawa/Bali Kanem
7. Maghamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Januari-Februari atau bulan Jawa/Bali Kapitu
8. Phalgunamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Februari-Maret atau bulan Jawa/Bali Kawolu
9. Cetramasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Maret-April atau bulan Jawa/Bali Kasanga
10. Wesakhamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan April-Mei atau bulan Jawa/Bali Kasepuluh/Kadasa
11. Jyesthamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Mei-Juni atau bulan Jawa Dhesta atau Bali Desta
12. Asadhamasa, kurang lebih bertepatan dengan bulan Juni-Juli atau bulan Jawa Sadha atau Bali Desta
Nama musim
Di India satu tahun dibagi menjadi enam musim, atau dengan kata lain setiap musim berlangsung dua bulan. Berikut nama-nama musim
1. Warsa, musim hujan bertepatan dengan Srawana dan Bhadrawada.
2. Sarat, musim rontok, dan seterusnya.
3. Hemanta, musim dingin
4. Sisira, musim sejuk kabut
5. Basanta, musim semi
Tahun Luni-Solar
Berhubung bulan-bulan dalam kalender Saka hanya terdiri dari 30 hari, maka tahun baru harus disesuaikan setiap tahunnya untuk mengiringi daur perputaran matahari.
Sejarah Kalender Saka
Kalender Saka berawal pada tahun 78 Masehi dan juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana (Sâlivâhana). Kala itu Saliwahana yang adalah seorang raja ternama dari India bagian selatan, mengalahkan kaum Saka. Tetapi sumber lain menyebutkan bahwa mereka dikalahkan oleh Wikramaditya (Vikramâditya). Wikramaditya adalah seorang musuh atau saingan Saliwahana, beliau berasal dari India bagian utara.
Mengenai kaum Saka ada yang menyebut bahwa mereka termasuk sukabangsa Turki atau Tatar. Namun ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebut bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana yang berkuasa di Baktria (sekarang Afganistan).
Kalender Saka di Indonesia
Sebelum masuknya agama Islam, para sukubangsa di Nusantara bagian barat yang terkena pengaruh agama Hindu, menggunakan kalender Saka. Namun kalender Saka yang dipergunakan dimodifikasi oleh beberapa sukubangsa, terutama suku Jawa dan Bali. Di Jawa dan Bali kalender Saka ditambahi dengan cara penanggalan lokal. Setelah agama Islam masuk, di Mataram, oleh Sultan Agung diperkenalkan kalender Jawa Islam yang merupakan perpaduan antara kalender Islam dan kalender Saka. Di Bali kalender Saka yang telah ditambahi dengan unsur-unsur lokal dipakai sampai sekarang, begitu pula di beberapa daerah di Jawa, seperti di Tengger yang banyak penganut agama Hindu.
Bisnis Mudah Daftar 100% Gratis Kerja Gambang Hasil Luar Biasa.
Isi:
Hai ada bisnis menarik dan luar biasa dasyat nih!!
Di sini kita bisa Mendapatkan Rp. 277.777.778.500,- Lebih
Dengan Modal 100% GRATIS!! 100% MUDAH, 100% BEBAS RESIKO!
Kerjanya? Sangat mudah!
Untuk info Lengkapnya Kunjungi :
http://gajigratis.com/?ref=pastiada
Selasa, 29 Desember 2009
Kamis, 24 Desember 2009
APA signifikansi masa adventus bagi orang Kristen di zaman ini? Dalam dunia pasar, masa adventus tidak lain menjadi saat promosi aneka produk yang bertaut dengan peristiwa natal. Dari terompet hingga baju natal. Dari pohon natal artifisial sampai album natal Mariah Carey.
Masa ini tidak lebih dari sebuah interval sebelum perayaan natal yang glamor, penuh musik dan hura-hura. Masa adventus, dengan profanasi semacam ini, seolah-olah kehilangan tuahnya dan menjadi tidak lebih dari perayaan anual 'pemanasan' sebelum pesta natal. Namun, bila menelisik hakikat adventus, kita akan tertegun oleh kedalaman makna masa ini.
Masa adventus adalah masa penantian. Penantian menunjukkan sebuah pasivitas. Eskatologi Kristen tampaknya menjustifikasi hal ini saat berbicara tentang kedatangan Kristus pada masa parousia, saat di mana keselamatan kita mendapat kepenuhannya. Kita menunggu saat itu secara pasif, sebab keselamatan paripurna adalah sebuah gratia, anugerah yang kita terima cuma-cuma.
Namun, berkaca pada hal-hal harian hidup kita, kita menemukan bahwa penantian juga meniscayakan hadirnya aktivitas. Seorang petani padi yang sudah menanami sawahnya tidak bisa mengharapkan hasil panenan yang berlimpah bila ia cuma menanti tanpa melakukan kegiatan apa pun seperti menyiangi rumput, memperhatikan irigasi dan memberi pupuk. Kini, kita bertanya, bisakah penjelasan analogis semacam ini dipakai untuk menjelaskan substansi masa adventus sebagai masa penantian?
Saya pikir penjelasan semacam ini tidak dapat menjelaskan makna adventus. Alasannya sederhana saja. Padi adalah apa yang sudah kita miliki sebelumnya dan tinggal kita tanam dan rawat. Sementara itu, Mesias yang kita nantikan adalah Dia Yang Lain, Yang Heteronom, yang melampaui diri kita sendiri. Ia ada di luar genggaman kita. Dengan demikian, menantikan Dia yang akan datang hanya meniscayakan iman, itikad untuk pasrah secara total pada penyelenggaraan ilahi.
Namun, kembali kepada analogi yang digunakan di atas, kita juga menemukan bahwa padi adalah sesuatu dengan potensialitas tertentu. Aktualisasi potensinya hanya mungkin terjadi dalam kondisi tertentu, yaitu bila padi itu ditanam, dirawat dan dijaga baik sehingga dapat menghasilkan panenan yang berlimpah. Berikut, saya hendak menunjukkan bahwa penjelasan ini memiliki kaitan dengan hakikat masa adventus ini.
Masa adventus adalah simbolisme. Masa ini menandakan harapan konstan manusia akan kedatangan kembali penebusnya. Sebagai sebuah simbol, ia toh merujuk pada sesuatu yang historis dan faktual. Di sini, simbol bertautan dengan tindakan memorisasi, pengenangan kembali sesuatu yang pernah terjadi. Memang, masa adventus adalah peringatan, pengenangan akan penantian historis manusia akan epifani Allah, peristiwa inkarnatoris Sabda menjadi manusia. Peristiwa ini benar-benar terjadi dalam sejarah dan mengubah sejarah kemanusiaan.
Sebagai sebuah simbol yang mengantar pada aktus mengenang, masa ini pun kita hayati dalam terang iman. Dalam masa adventus kita secara khusus mendalami iman kita akan peristiwa revelatoris Allah menjadi manusia. Allah sudah menjadi manusia dan peristiwa itulah yang coba kita kenang lagi dalam terang iman. Pertanyaan kita, mengapa kita perlu mengenang?
Tindakan mengenang atau mengingat memiliki nilai yang lebih dari sekadar mengingat tiap peristiwa singular dalam hidup. Lebih dari itu, tindakan mengenang mengantar manusia pada pemaknaan akan hidupnya dan penentuan atas tindakan-tindakannya. Sebagai contoh, pengenangan akan peristiwa genosida kaum Yahudi pada masa Perang Dunia II mengantar kita pada kesadaran akan jahatnya totalitarisme serentak mendorong kita untuk mencegah revivalisme sistem yang demikian. Kenangan akan masifnya kehancuran yang ditimbulkan industri tambang di Teluk Buyat, Minahasa, atau pun di tempat-tempat lain mendorong kita untuk mengritik, bahkan menolak industri tambang yang beroperasi di wilayah kita. Di sini, kenangan memungkinkan adanya pemaknaan terhadap sejarah yang diharapkan berujung pada penciptaan tindakan-tindakan baru yang lebih positif dan manusiawi.
Kembali pada masa adventus. Dalam masa adventus, kita mengenang Kristus yang akan lahir pada hari Natal. Kita tidak menantikan yang lain, tetapi Kristus. Apa kekhasan dari pernyataan terakhir ini? Saya pikir, masa adventus sebagai masa menantikan kedatangan Yesus Kristus hanya akan menemukan nilainya bila penantian itu memodifikasi, mengubah hidup kita dan pilihan-pilihan radikal kita sebagai orang Kristen. Kita menantikan Kristus, Penyelamat dengan misi mesianis yang sangat khas: "Roh Tuhan ada padaku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta dan pembebasan bagi orang-orang yang tertindas dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:18-19)."
Iman akan Kristus yang demikian selayaknya mengubah modus vivendi, cara hidup kita. Berkaitan dengan analogi yang digunakan di atas, iman dilihat sebagai sebuah potensialitas yang melekat atau inheren dengan diri kita. Iman kepada Kristus, dengan kekhasan mesianitasNya, hanya dapat hidup sejauh ia merasuki hidup kita dan mengubah kita dari dalam. Dengan kata lain, bak padi, iman itu akan mati bila ia tidak 'dipelihara' dan 'dijaga' dalam tindakan-tindakan aktual setiap hari.
Warta-warta profetis para nabi dalam Perjanjian Lama sesungguhnya membicarakan hal yang sama, bahwasannya iman akan Yahwe yang setia dengan janji keselamatanNya dan yang selanjutnya akan menyempurnakan keselamatan itu seharusnya mengubah tindakan manusia. Allah adalah sumber keselamatan dan iman kepadaNya mesti menentukan ciri praksis hidup kita. Di sini kita melihat keharusan konvergensi iman dan kesetiaan. Iman, fides, akan penyelenggaraan Allah yang menyelamatkan, mesti direspons dengan kesetiaan, fidelitas manusia pada perintah-perintah ilahi. Iman kepada Allah, muasal keselamatan, mesti dibarengi cinta akan nilai-nilai ilahi yang menyelamatkan (salvific values) yang Allah hendaki seperti kebaikan, kebenaran, kejujuran, belas kasihan dan keadilan. Konsekuensinya, tindakan membela nilai-nilai ini adalah praksis iman, tindakan antisipatoris terhadap realisasi paripurna keselamatan pada masa parousia.
Pembelaan terhadap nilai-nilai luhur ini tidak lain merupakan tindakan anunsiasi, pewartaan Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah. Dalam masa adventus, kita mendengar berbagai kabar gembira tentang restorasi kehidupan (bdk. Yer 33:14-16; Bar 5:1-9; Zef 3:14-17; Mik 5:2-5 - bacaan-bacaan pertama dalam 4 hari minggu adventus) yang kemudian mencapai kulminasinya pada kedatangan Kristus. Apa pentingnya kabar gembira tentang restorasi ini bagi hidup kita saat ini? Re-presentasi hal yang terjadi pada masa lampau ini tidak terutama bertujuan membabarkan kelampauan tetapi terutama menunjukkan bahwa sejarah masa lampau adalah sejarah yang bersifat promisoris (dipenuhi janji) dan karena itu senantiasa mencari pemenuhannya pada masa sekarang ini (bdk. Moltmann, 1984:105-106). Janji Allah (terwujud dalam sejarah melalui kedatangan Kristus) itu pada gilirannya mengundang kita, gereja, umat Allah yang berziarah, untuk terlibat aktif membawa ekspektasi ilahi, harapan akan keselamatan itu, pada realisasinya dalam sejarah kita saat ini. Kita, sebagai anggota gereja, tidak dapat mengelakkan diri dari panggilan ini sebab kredibilitas kita sebagai pengikut Kristus ditentukan oleh komitmen kita merealisasikan Kerajaan Allah dalam kehidupan kita tiap hari di tengah dunia.
Anunsiasi kabar gembira pada gilirannya mengajak kita melakukan denunsiasi, penolakan terhadap hal-hal yang berlawanan dengan nilai injili seperti penindasan dan ketidakadilan (bdk. Bevans dan Schroeder, 2004:313). Dalam konteks masa adventus, ajakan melakukan denunsiasi berkaitan dengan ajakan melakukan metanoia, pertobatan. Kita mengetahui bahwa warta pertobatan Yohanes Pembaptis menjadi presedensi kehadiran dan misi Kristus (Mat 3:1-12; Mrk 1:1-8; Luk 3:1-18; Yoh1:19-28). Pertobatan yang sungguh hanya mungkin terjadi bila orang pertama-tama menyadari dosa-dosa personal dan sosial yang terjadi. Persoalan pokok yang kita alami sekarang ini adalah banalitas kejahatan, kedosaan. Kejahatan seperti menyuap, menyogok, mencuri uang milik orang lain menjadi hal-hal lumrah, harian, normal dan banal. Tidaklah mengherankan kalau para kriminal kelas kakap dalam masyarakat amat populer dan mereka juga tidak malu membela diri di hadapan kamera. Kebenaran pada akhirnya sulit ditemukan sebab yang tampil hanyalah simulakra kebenaran.
Dalam situasi begini, masa adventus mengajak kita orang Kristen untuk, seperti Yohanes Pembaptis, berani menunjukkan secara jelas negativitas yang ada dalam kehidupan kita. Tidak hanya itu, kita juga mesti menunjukkan kepada dunia satu cara hidup kontras, yang secara diametris berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan utama dalam masyarakat; kita menunjukkan martyria atau kesaksian dengan jalan menghidupi hidup yang diubah berdasarkan harapan kita akan Dia yang akan datang. Di sini perumpaan tentang hamba yang setia dan tidak setia hendaknya mengilhami cara berada kita sebagai orang Kristen (bdk. Mat 24:45-51; Luk 12:35-48).
Mengamati sekuensi perumpaan ini, khususnya dalam teks Matius, kita menemukan bahwa perumpaan ini muncul setelah narasi tentang kedatangan kembali Anak Manusia pada masa eschaton (Mat 24:36-44). Kita tidak mengetahui kapan Anak Manusia datang kembali. Ketidaktahuan itu hendaknya mendorong kita untuk senantiasa berjaga dan berusaha menjadi hamba yang setia. Kesetiaan seorang hamba berarti bahwa antisipasi eskatologis akan kedatangan Sang Raja memicunya untuk melakukan resistensi historis (bdk. Moltmann, 1984: 103). Itu artinya harapan akan kedatangan Kristus membuat kita tidak fatalistis, menyerah pada situasi, tetapi seharusnya mendorong kita mengadakan perlawanan terhadap berbagai belenggu personal dan sosial yang kontradiktif dengan nilai-nilai injili dan mengancam kehidupan.
Dalam konteks kehidupan kita di NTT, di mana agama Kristen menjadi agama mayoritas, saya kira masa adventus tetap memiliki makna yang sangat dalam. Kita semua dipanggil untuk mengintegrasikan makna adventus ke dalam domain kehidupan kita, secara khusus dalam ranah sosial politik. Carut marut kehidupan sosio-politik kita akhir-akhir ini yang diindikasikan dengan eskalasi korupsi (NTT, provinsi terkorup kedua di Indonesia!) mestinya mendorong kita, secara khusus para pemimpinnya (hampir semuanya adalah orang-orang Kristen!), untuk menunjukkan iman kepada Dia yang akan datang itu dengan cara menginkorporasikan nilai-nilai injili dalam praktek penyelenggaraan kekuasaan.
Iman hendaknya mendorong kita merelativisasi praktek politik kita berdasarkan visi biblis dan dengan demikian menjauhkan kita dari tendensi melegitimasi dan mensakralisasi praktek politik yang korup dengan pembenaran teologis tertentu. Tanpa itu, segala sumpah jabatan, yang dilakukan dengan satu tangan di atas Kitab Suci, hanyalah sebuah seremoni kosong, nirmakna. Semoga masa adventus yang kita rayakan tahun ini benar-benar menghidupkan semangat kita untuk melakukan transformasi kehidupan kita bersama! *
Masa ini tidak lebih dari sebuah interval sebelum perayaan natal yang glamor, penuh musik dan hura-hura. Masa adventus, dengan profanasi semacam ini, seolah-olah kehilangan tuahnya dan menjadi tidak lebih dari perayaan anual 'pemanasan' sebelum pesta natal. Namun, bila menelisik hakikat adventus, kita akan tertegun oleh kedalaman makna masa ini.
Masa adventus adalah masa penantian. Penantian menunjukkan sebuah pasivitas. Eskatologi Kristen tampaknya menjustifikasi hal ini saat berbicara tentang kedatangan Kristus pada masa parousia, saat di mana keselamatan kita mendapat kepenuhannya. Kita menunggu saat itu secara pasif, sebab keselamatan paripurna adalah sebuah gratia, anugerah yang kita terima cuma-cuma.
Namun, berkaca pada hal-hal harian hidup kita, kita menemukan bahwa penantian juga meniscayakan hadirnya aktivitas. Seorang petani padi yang sudah menanami sawahnya tidak bisa mengharapkan hasil panenan yang berlimpah bila ia cuma menanti tanpa melakukan kegiatan apa pun seperti menyiangi rumput, memperhatikan irigasi dan memberi pupuk. Kini, kita bertanya, bisakah penjelasan analogis semacam ini dipakai untuk menjelaskan substansi masa adventus sebagai masa penantian?
Saya pikir penjelasan semacam ini tidak dapat menjelaskan makna adventus. Alasannya sederhana saja. Padi adalah apa yang sudah kita miliki sebelumnya dan tinggal kita tanam dan rawat. Sementara itu, Mesias yang kita nantikan adalah Dia Yang Lain, Yang Heteronom, yang melampaui diri kita sendiri. Ia ada di luar genggaman kita. Dengan demikian, menantikan Dia yang akan datang hanya meniscayakan iman, itikad untuk pasrah secara total pada penyelenggaraan ilahi.
Namun, kembali kepada analogi yang digunakan di atas, kita juga menemukan bahwa padi adalah sesuatu dengan potensialitas tertentu. Aktualisasi potensinya hanya mungkin terjadi dalam kondisi tertentu, yaitu bila padi itu ditanam, dirawat dan dijaga baik sehingga dapat menghasilkan panenan yang berlimpah. Berikut, saya hendak menunjukkan bahwa penjelasan ini memiliki kaitan dengan hakikat masa adventus ini.
Masa adventus adalah simbolisme. Masa ini menandakan harapan konstan manusia akan kedatangan kembali penebusnya. Sebagai sebuah simbol, ia toh merujuk pada sesuatu yang historis dan faktual. Di sini, simbol bertautan dengan tindakan memorisasi, pengenangan kembali sesuatu yang pernah terjadi. Memang, masa adventus adalah peringatan, pengenangan akan penantian historis manusia akan epifani Allah, peristiwa inkarnatoris Sabda menjadi manusia. Peristiwa ini benar-benar terjadi dalam sejarah dan mengubah sejarah kemanusiaan.
Sebagai sebuah simbol yang mengantar pada aktus mengenang, masa ini pun kita hayati dalam terang iman. Dalam masa adventus kita secara khusus mendalami iman kita akan peristiwa revelatoris Allah menjadi manusia. Allah sudah menjadi manusia dan peristiwa itulah yang coba kita kenang lagi dalam terang iman. Pertanyaan kita, mengapa kita perlu mengenang?
Tindakan mengenang atau mengingat memiliki nilai yang lebih dari sekadar mengingat tiap peristiwa singular dalam hidup. Lebih dari itu, tindakan mengenang mengantar manusia pada pemaknaan akan hidupnya dan penentuan atas tindakan-tindakannya. Sebagai contoh, pengenangan akan peristiwa genosida kaum Yahudi pada masa Perang Dunia II mengantar kita pada kesadaran akan jahatnya totalitarisme serentak mendorong kita untuk mencegah revivalisme sistem yang demikian. Kenangan akan masifnya kehancuran yang ditimbulkan industri tambang di Teluk Buyat, Minahasa, atau pun di tempat-tempat lain mendorong kita untuk mengritik, bahkan menolak industri tambang yang beroperasi di wilayah kita. Di sini, kenangan memungkinkan adanya pemaknaan terhadap sejarah yang diharapkan berujung pada penciptaan tindakan-tindakan baru yang lebih positif dan manusiawi.
Kembali pada masa adventus. Dalam masa adventus, kita mengenang Kristus yang akan lahir pada hari Natal. Kita tidak menantikan yang lain, tetapi Kristus. Apa kekhasan dari pernyataan terakhir ini? Saya pikir, masa adventus sebagai masa menantikan kedatangan Yesus Kristus hanya akan menemukan nilainya bila penantian itu memodifikasi, mengubah hidup kita dan pilihan-pilihan radikal kita sebagai orang Kristen. Kita menantikan Kristus, Penyelamat dengan misi mesianis yang sangat khas: "Roh Tuhan ada padaku, sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta dan pembebasan bagi orang-orang yang tertindas dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:18-19)."
Iman akan Kristus yang demikian selayaknya mengubah modus vivendi, cara hidup kita. Berkaitan dengan analogi yang digunakan di atas, iman dilihat sebagai sebuah potensialitas yang melekat atau inheren dengan diri kita. Iman kepada Kristus, dengan kekhasan mesianitasNya, hanya dapat hidup sejauh ia merasuki hidup kita dan mengubah kita dari dalam. Dengan kata lain, bak padi, iman itu akan mati bila ia tidak 'dipelihara' dan 'dijaga' dalam tindakan-tindakan aktual setiap hari.
Warta-warta profetis para nabi dalam Perjanjian Lama sesungguhnya membicarakan hal yang sama, bahwasannya iman akan Yahwe yang setia dengan janji keselamatanNya dan yang selanjutnya akan menyempurnakan keselamatan itu seharusnya mengubah tindakan manusia. Allah adalah sumber keselamatan dan iman kepadaNya mesti menentukan ciri praksis hidup kita. Di sini kita melihat keharusan konvergensi iman dan kesetiaan. Iman, fides, akan penyelenggaraan Allah yang menyelamatkan, mesti direspons dengan kesetiaan, fidelitas manusia pada perintah-perintah ilahi. Iman kepada Allah, muasal keselamatan, mesti dibarengi cinta akan nilai-nilai ilahi yang menyelamatkan (salvific values) yang Allah hendaki seperti kebaikan, kebenaran, kejujuran, belas kasihan dan keadilan. Konsekuensinya, tindakan membela nilai-nilai ini adalah praksis iman, tindakan antisipatoris terhadap realisasi paripurna keselamatan pada masa parousia.
Pembelaan terhadap nilai-nilai luhur ini tidak lain merupakan tindakan anunsiasi, pewartaan Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah. Dalam masa adventus, kita mendengar berbagai kabar gembira tentang restorasi kehidupan (bdk. Yer 33:14-16; Bar 5:1-9; Zef 3:14-17; Mik 5:2-5 - bacaan-bacaan pertama dalam 4 hari minggu adventus) yang kemudian mencapai kulminasinya pada kedatangan Kristus. Apa pentingnya kabar gembira tentang restorasi ini bagi hidup kita saat ini? Re-presentasi hal yang terjadi pada masa lampau ini tidak terutama bertujuan membabarkan kelampauan tetapi terutama menunjukkan bahwa sejarah masa lampau adalah sejarah yang bersifat promisoris (dipenuhi janji) dan karena itu senantiasa mencari pemenuhannya pada masa sekarang ini (bdk. Moltmann, 1984:105-106). Janji Allah (terwujud dalam sejarah melalui kedatangan Kristus) itu pada gilirannya mengundang kita, gereja, umat Allah yang berziarah, untuk terlibat aktif membawa ekspektasi ilahi, harapan akan keselamatan itu, pada realisasinya dalam sejarah kita saat ini. Kita, sebagai anggota gereja, tidak dapat mengelakkan diri dari panggilan ini sebab kredibilitas kita sebagai pengikut Kristus ditentukan oleh komitmen kita merealisasikan Kerajaan Allah dalam kehidupan kita tiap hari di tengah dunia.
Anunsiasi kabar gembira pada gilirannya mengajak kita melakukan denunsiasi, penolakan terhadap hal-hal yang berlawanan dengan nilai injili seperti penindasan dan ketidakadilan (bdk. Bevans dan Schroeder, 2004:313). Dalam konteks masa adventus, ajakan melakukan denunsiasi berkaitan dengan ajakan melakukan metanoia, pertobatan. Kita mengetahui bahwa warta pertobatan Yohanes Pembaptis menjadi presedensi kehadiran dan misi Kristus (Mat 3:1-12; Mrk 1:1-8; Luk 3:1-18; Yoh1:19-28). Pertobatan yang sungguh hanya mungkin terjadi bila orang pertama-tama menyadari dosa-dosa personal dan sosial yang terjadi. Persoalan pokok yang kita alami sekarang ini adalah banalitas kejahatan, kedosaan. Kejahatan seperti menyuap, menyogok, mencuri uang milik orang lain menjadi hal-hal lumrah, harian, normal dan banal. Tidaklah mengherankan kalau para kriminal kelas kakap dalam masyarakat amat populer dan mereka juga tidak malu membela diri di hadapan kamera. Kebenaran pada akhirnya sulit ditemukan sebab yang tampil hanyalah simulakra kebenaran.
Dalam situasi begini, masa adventus mengajak kita orang Kristen untuk, seperti Yohanes Pembaptis, berani menunjukkan secara jelas negativitas yang ada dalam kehidupan kita. Tidak hanya itu, kita juga mesti menunjukkan kepada dunia satu cara hidup kontras, yang secara diametris berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan utama dalam masyarakat; kita menunjukkan martyria atau kesaksian dengan jalan menghidupi hidup yang diubah berdasarkan harapan kita akan Dia yang akan datang. Di sini perumpaan tentang hamba yang setia dan tidak setia hendaknya mengilhami cara berada kita sebagai orang Kristen (bdk. Mat 24:45-51; Luk 12:35-48).
Mengamati sekuensi perumpaan ini, khususnya dalam teks Matius, kita menemukan bahwa perumpaan ini muncul setelah narasi tentang kedatangan kembali Anak Manusia pada masa eschaton (Mat 24:36-44). Kita tidak mengetahui kapan Anak Manusia datang kembali. Ketidaktahuan itu hendaknya mendorong kita untuk senantiasa berjaga dan berusaha menjadi hamba yang setia. Kesetiaan seorang hamba berarti bahwa antisipasi eskatologis akan kedatangan Sang Raja memicunya untuk melakukan resistensi historis (bdk. Moltmann, 1984: 103). Itu artinya harapan akan kedatangan Kristus membuat kita tidak fatalistis, menyerah pada situasi, tetapi seharusnya mendorong kita mengadakan perlawanan terhadap berbagai belenggu personal dan sosial yang kontradiktif dengan nilai-nilai injili dan mengancam kehidupan.
Dalam konteks kehidupan kita di NTT, di mana agama Kristen menjadi agama mayoritas, saya kira masa adventus tetap memiliki makna yang sangat dalam. Kita semua dipanggil untuk mengintegrasikan makna adventus ke dalam domain kehidupan kita, secara khusus dalam ranah sosial politik. Carut marut kehidupan sosio-politik kita akhir-akhir ini yang diindikasikan dengan eskalasi korupsi (NTT, provinsi terkorup kedua di Indonesia!) mestinya mendorong kita, secara khusus para pemimpinnya (hampir semuanya adalah orang-orang Kristen!), untuk menunjukkan iman kepada Dia yang akan datang itu dengan cara menginkorporasikan nilai-nilai injili dalam praktek penyelenggaraan kekuasaan.
Iman hendaknya mendorong kita merelativisasi praktek politik kita berdasarkan visi biblis dan dengan demikian menjauhkan kita dari tendensi melegitimasi dan mensakralisasi praktek politik yang korup dengan pembenaran teologis tertentu. Tanpa itu, segala sumpah jabatan, yang dilakukan dengan satu tangan di atas Kitab Suci, hanyalah sebuah seremoni kosong, nirmakna. Semoga masa adventus yang kita rayakan tahun ini benar-benar menghidupkan semangat kita untuk melakukan transformasi kehidupan kita bersama! *
Langganan:
Komentar (Atom)